Kantor Walikota Bau-Bau
Pengembangan kawasan terpadu dengan estetika tata ruang kota yang indah
Pengembangan kawasan terpadu dengan estetika tata ruang kota yang indah
 
Kamis, 1 April 2010
Menyambut Persahabatan Bau-Bau dan Seoul

BAUBAU adalah sebuah kota kecil di Indonesia. Ini adalah salah satu kata pembuka Walikota Baubau H Mz Amirul Tamim saat memperkenalkan Baubau di hadapan 5000 komunitas masyarakat Korea di Jakarta.
Kata ini singkat namun jika ditelisik lebih dalam, mengandung makna yang sangat banyak.

Saya menangkap kalimat itu justru sebaliknya bahwa Bau-Bau itu pernah menjadi pusat Kesultanan Buton, pernah menjadi ibukota Kabupaten Buton, pernah menjadi kota administratif, pernah menjadi ibukota Kabupaten Sulawesi Tenggara, dan kini menjadi Kota Baubau. Begitu banyak jabatan yang pernah diemban kota kecil nan semerbak ini. Baubau adalah kota kecil namun berbagai peran besar telah dilaluinya dalam sejarah pertumbuhan Sulawesi Tenggara.

Baubau kota yang kecil memiliki keragaman budaya, mengandung kekayaan alam, memiliki potensi wisata yang tinggi, sebagai kota jasa dan dagang, dan sebagai pusat perputaran ekonomi dan bisnis, pendidikan di Kawasan Buton Raya.

Akhir-akhir ini Baubau memiliki pesona terhadap Seoul. Sampai-sampai Korea salah satu negara maju di Asia Timur itu berkehendak membangun kawasan resort bertaraf internasional. Resort sudah pasti tempat hunian, tempat berekreasi, berlokasi di pantai. Jika resort internasional ini berdiri, maka tercatat terdapat dua resort internasional di Kawasan Buton Raya, termasuk Onemobaa Resort di Pulau Tomia Kabupaten Wakatobi.

Saya bayangkan tensi kunjungan wisatawan mancanegara ke Kota Baubau akan semakin tinggi. Terumbu karang dan sejumlah obyek wisata tak akan sia-sia keberadaannya. Baubau sebagai kawasan pantai, juga merupakan kota benteng terluas di dunia. Negara yang bertetangga dengan pemilik tembok China itu, akan mengetahui dan menyampaikan kepada rekan senegaranya bahwa di Baubau terdapat benteng terluas di dunia, memiliki tradisi budaya yang unik, masyarakatnya ramah, dst. Ini juga akan semakin menarik minat wisatawan ke Kota Semerbak.

Transportasi, geliat ekonomi, dan hunian hotel akan maju di masa yang akan datang. Akivitas Bandara Betoambari dan Pelabuhan Murhum akan semakin berkembang karena tensi kunjungan wisata semakin ramai.

Di kawasan Bumi Perkemahan (Buper) Samparona, Kecamatan Sorawolio akan didirikan Korean Centre yang terbuat dari kertas dan container. Korean centre merupakan pusat informasi Baubau dan Korea. Di tempat itu juga akan dibuka salah satu universitas, sekolah bahasa, dan aktivitas lainnya yang akan semakin mengikat hubungan Baubau dan Seoul ke arah yang lebih maju. Inilah yang disebut sebagai pertukaran budaya. Meski Baubau dan Korea seperti yang dikatakan masyarakat Korea memiliki kesamaan budaya dalam hal menerima tamu (ramah), tetap saja memiliki perbedaan karena bukan satu rumpun.

Beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk menyandingkan dua daerah yang memilki karakter yang berbeda ini. Tingkatkan SDM dengan mempelajari dan memahami adat dan budaya kita, tingkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), tingkatkan iman dan takwa (imtak), tinggalkan kebiasaan yang tak berguna yang cenderung menyia-nyiakan waktu (giat bekerja).

Dan yang paling utama tetaplah ramah dalam bertutur kata, ramah dalam menyapa tamu. Dua kata kunci ini sangat berarti untuk meningkatkan kepercayaan negara lain dan daerah lain kepada Baubau. Dua kata kunci itu juga sebagai dasar untuk tetap menjaga kondusifitas dan keamanan daerah.

Negara Korea tidak main-main untuk bersahabat dengan Kota Baubau. Sepertinya cinta telah bersemi, siap memberi dan menerima segalanya. Sampai-sampai negara Jepang kepincut ingin tahu dan ingin merebut perhatian Baubau. Tapi Jepang tak perlu berkecil hati, karena Baubau membuka diri bagi negara mana pun yang ingin berinvestasi.

Kunjungan Korea ke Baubau ditandai dengan wartawannya yang meliput khusus dan mewawancarai Walikota Baubau H Mz Amirul Tamim. Baubau diekspos di Korea, Baubau menjadi buah bibir di sana, terutama ciacia yang diduga memiliki kemiripan gramatika dengan bahasa Korea (hangeul). Semua kosa kata bahasa ciacia bisa diartikulasikan dalam huruf hangeul. Berawal dari kerjasama bahasa itu, dampaknya Masyarakat Korea semakin haus untuk mengetahui seluk-beluk Baubau. Berita tentang Baubau di Korea rupanya sampai ke telinga orang Jepang. Makanya Jepang juga mengirim jurnalisnya ke Baubau.

Pertanyaan wartawan Jepang itu tentang kerjasama Baubau dengan Korea? Intinya Baubau membuka diri untuk alam investasi dengan negara lain. Jika Jepang ingin bekerjasama dengan Baubau juga akan lebih baik. Sebab banyak pengalaman dari Jepang dan Korea untuk disimak. (Yuhandri Hardiman - Radar Buton)

Berita Lainnya